Selasa, 21 Januari 2014

ayah


Cerita ayah

Langit telah membentangkan jubah hitamnya, bahkan telah memasuki peredaraanya, tetapi sampai saat ini aku belum dapat memejamkan mataku. “tiap helai daun yang terjatuh telah tercatat sebagai takdirnya dan itu dalam kekuasaanya. Yakinlah nak, bahwa semua yang Allah berikan adalah yang terbaik, meski yang terbaik tak selalu indah” kata-kata inilah yang terngiang di telingaku, mengingatkan ku pada seorang laki-laki yang pandangannya amat menyejukan.

Lelaki berkulit sawo matang itu, dengan garis wajah bijaksana, berjalan dengan gagahnya, biasanya aku sapa dengan sebutan “ayah”. Entah berapa belas tahun aku mengenalnya, seseorang yang keras wataknya, seringkali kata-kata kasar melengkapi piawaknya, tapi suatu ketika berubah bak malaikat di surga.
Hari itu, saat ibu meninggalkan senyum terakhir diatas pusaranya, saat itu juga untuk yang pertama kalinya, aku lihat sosok lain dari seseorang yang aku anggap begitu tegar, butiran bening jatuh membasahi pipinya, kemudian sesegera mungkin dihapusnya, mungkin takut anak-anaknya melihat.
     Sejak hari itu aku sadar, bahwa segala tawa adalah topeng dibalik mata teduhnya, mata terkadang cukup menjadi isyarat untuk megetahui keadaan seseorang, bahwa sisi yang begitu lembut ada pada seorang ayah yang hamper tidak pernah tampak.
Disaat aku merasakan perasaan yang begitu hancur, ayalah malaikat tanpa sayap yang membuat aku melihat sisi bahagia dari apa yang aku dapat, bahwa kita harus memliki rasa sukur, dengan sebaik-baiknya penerimaan.
Karenanyalah aku sadar, bahwa jalan masih panjang,dan mimpi-mimpi seluas samudra.Aku menangis saat ayah meminta aku membantunya menjadi dua posisi dalam satu sosok, menjadi sosok seorang ayah dan ibu untuk kami, agar tanggung jawab terebut terlaksana dengan baik.
Ayah… andai aku mampu, kuingin memotong waktu dan jarak, agar bisa segera bertemu denganmu.


Anakmu didalam perantauan

*ini pertama kalinya bikin cerpen, ckckc


Label:

2 Komentar:

Pada 21 Januari 2014 pukul 09.07 , Blogger Ahmad mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

 
Pada 21 Januari 2014 pukul 18.39 , Blogger Sita aini mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda